Piala Dunia sepak bola telah mengubah perasaanku tentang rumah

Seseorang rekan memberitahu saya mengenai panggilan telephone yang dia kerjakan belakangan ini. Dia coba pesan kegiatan ditempat dia akan liburan (di Inggris). Orang di telephone akhiri panggilan dengan menanyakan, ” Apa Anda seseorang imigran? ” Tidak satu juga dari kami meyakini kenapa dia disuruh ini. Untuk arah apa? Ke ujung Apa? Terkecuali kami berdua begitu meyakini kenapa dia bertanya ini. Karena di sejumlah sisi negara, itu terpenting buat beberapa orang apa Anda seseorang imigran ataulah bukan. Tidak jadi masalah bila rekan saya pesan kegiatan berlibur serta merencanakan untuk membayarnya dengan cara pas waktu.

Apa dia akan menampik pekerjaan bila dia menyampaikan ya? Bila dia katakan dia turis? Bila dia berkata, itu bukan urusanmu, kawan. Ini berlangsung di pangkalnya Piala Dunia. Kehilangan Inggris di semi final membawa perjalanan mengagumkan team ini selesai. Tapi hingga sampai titik itu, satu hal yang aneh nampaknya berlangsung di seputar saya saat demam sepak bola makin mencengkeram makin beberapa orang : ide mengenai rumah beralih. Untuk kebaikan. Saya ingat pagi hari referendum Brexit, dikasih tahu seringkali jika telah saatnya buat saya untuk ” pulang ke rumah “.

Seorang bahkan juga memberitahu saya jika telah saatnya untuk mengemas tas saya serta kembali pada ” tanah coklat “. (Tidak hanya : dimana tanah coklat? kelihatannya mengagumkan. Saya meyakini ini merupakan musim mangga selama tahun serta tidak ada yang menempatkan pergelangan tangan mereka di samping Anda sepanjang gelombang panas serta berkata, ” lihat! Saya hampir gelap seperti Anda saat ini “). Pulang ke rumah. Saya tidak dapat pikirkan orang kulit berwarna yang saya ketahui yang belumlah diberitahu untuk pulang ke rumah pada titik spesifik.

Ini jadi konsentrasi yang tajam dimana rumah ada. Itu beresiko serta rumit, saya ketahui, dilahirkan disini, dengan budaya dari lain tempat, serta mempunyai ide rumit mengenai jati diri Anda. Tes cricket Norman Tebbit yang sangat simpel itu, buat saya, susah, karena mensupport India bermakna rayakan dimana orangtua saya berasal, sisi dari warisan saya yang tidak bisa di ketahui, rasakan jalinan kekeluargaan dengan sepupu saya kembali di desh. Mensupport Inggris bermakna pernyataan pribadi jika saya tidak sedingin yang saya kehendaki. Tetapi saya, seperti yang diterangkan Hanif Kureishi dengan indah di The Buddha Of Suburbia, “seorang Inggris lewat serta lewat, hampir”. Kata itu, hampir, memvisualisasikan perasaan kurang punya serta belumlah jadi punya.

Serta saat Anda mendamaikan kenyataan jika Anda lahir di Inggris serta Anda terasa Inggris serta belumlah semua keluarga Anda datang dari India serta Anda terasa India juga, seorang memerintah Anda pulang ke rumah. ” Tetapi ini rumahku, ” saya akan berfikir. Nyanyian “Ini akan tiba ke rumah” sepanjang Piala Dunia sudah jadi lebih menyatu dibanding yang saya sangka akan berlangsung. Karena inspirasi dimana rumah merasa kolektif. Saya lihat pengagum Inggris saat ini serta lihat keragaman semakin banyak dari mulanya. Saya tidak bergerak saat saya lihat beberapa orang dioles-oleskan di bendera St.

George berjalan mengarah saya. Tentunya, tidak semua prima. Saya lihat tweet dari seseorang pria muda Asia selatan yang menyampaikan jika beberapa pengagum Inggris yang putih memerintahnya berhenti melambai-lambaikan bendera Inggris karena dia tidak berkulit putih. Diluar itu, ada beberapa orang yang akan tidak rasakan semangat kolektif berbentuk berita baik serta euforia dari ikuti team Inggris karena mereka tidak suka pada sepakbola. Tetapi kata ini ” rumah “, itu bermakna suatu yang beberapa bulan paling akhir ini belumlah usai untuk sesaat waktu. Itu bermakna seakan-akan itu termasuk juga saya. Seorang memberitahu saya, sepanjang salah satunya kompetisi, jika Anda keluarkan semuanya pemain Inggris yang bukan anak-anak imigran, itu akan meniadakan lebih dari 1/2 tim.

Jadi saya pikirkan panggilan telephone rekan saya. Pertanyaan yang keluar dari biru : ” Apa Anda seseorang imigran? ” Serta begitu beracunnya itu. Tidak ada pembenaran untuk menanyakannya, terkecuali untuk arah ” memperdalam ” rekan saya. Serta saya berfikir mengenai rumah serta diberitahu untuk pulang berkali-kali sepanjang bertahun-tahun. Serta apa sepak bola pulang ataukah tidak, sekurang-kurangnya itu merupakan tempat yang merasa lebih inklusif serta bermacam dibanding awal mulanya. Saya cuma mengharap jika saat ini sepak bola selesai, bila Anda dengar seorang berteriak ” pulang ” pada seorang tanpa argumen tidak hanya jadi toksin, saya berharap Anda mempunyai punggung kita. Karena ini rumah kita juga.

Baca Juga :

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *